Acabaca

L(earn)ing as a food-sci(art)ist
12 14th, 2010

Ada cerita unik saat SMA yang membuat saya mengambil mayor Ilmu dan Teknologi Pangan di IPB. Guru Pendalaman Materi Matematika saya, Bapak Ramlan, pernah berkata:

“Jika kalian dihadapkan dua pilihan merk kacang kulit di pasar, merk A dan merk B. Merk A harganya murah dan tidak ada tulisan bebas kolesterol sedangkan merk B harganya mahal namun bertuliskan bebas kolesterol. Yang mana yang akan kalian pilih?”

Serentak seisi kelas memilih merk B karena kacang tersebut bebas kolesterol. Namun kemudian ia menjelaskan.

“Pilih saja yang merk A. Selain harganya murah, perlu kalian ketahui semua kacang kulit tidak mengandung kolesterol, bahkan kacang dapat menurunkan resiko penyakit jantung koroner bila dikonsumsi tidak berlebihan.”

Informasi sederhana ini mengejutkan dan sukses membuat saya penasaran dengan rahasia dan keunikan berbagai makanan.

Selain cerita tersebut, hal yang membuat saya jatuh hati kepada departemen ini adalah keberhasilan kakak kelas dalam membuat mie jagung dan sereal. Pengembangan mie instan berbahan baku jagung tersebut telah mengubah paradigma banyak orang. Tidak selamanya mie instan hanya terbuat dari tepung terigu. Selain itu, pembuatan sereal tanpa air juga dapat menekan angka gizi buruk, terutama di wilayah Indonesia bagian Timur. Dengan sedikit kreatifitas dan kemauan, penemuan baru dalam memproduksi pangan dapat berkembang pesat.

Karena banyaknya prestasi yang diraih departemen ini, Ilmu dan Teknologi Pangan diakui IFT sebagai salah satu departemen teknologi pangan terbaik dunia dan lulusan ITP-IPB dapat berkesempatan mengajukan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di IFT, Amerika Serikat.

Melihat begitu banyaknya potensi yang bisa kami kembangkan, semoga ITP 46 dapat banyak berkontribusi dalam mengembangkan pangan lokal dalam skala lokal maupun internasional.